Oleh: I Putu Gede Andy Pandy | Januari 22, 2009

Percaya pada Landrover

Senin pagi pekan lalu, udara di atas Warwick, dekat Birmingham, begitu cerahnya. Tidak seperti biasanya yang berawan dan basah oleh hujan, cuaca di Inggris hari-hari itu sangat bersahabat. Hangat.

Enam Range Rover Sport TDV8 dengan gagahnya memasuki halaman Hotel Mallory Court yang asri. Dengan sport utility vehicle (SUV) premium yang diperkenalkan pada Detroit Motor Show 2004 itulah, sembilan wartawan dari sembilan negara memulai petualangan di alam terbuka dalam rangka perayaan ulang tahun ke-60 Land Rover.

Dari Mallory Court, kami bergerak ke Solihull, wilayah West Midland, pabrik tempat Land Rover memproduksi Defender, Discovery, Range Rover, dan Range Rover Sport. Selain di Solihull, produsen mobil legendaris itu juga mempunyai pabrik di Halewood, Merseyside, dekat kota pelabuhan Liverpool yang memproduksi Freelander 2. Setelah sekitar satu jam, rombongan sampai di Solihull.

Di rumah sang legenda ini kami disambut Mr Land Rover Roger Charthorne. Pria berusia 61 tahun yang mengabdikan hampir seluruh kariernya pada Land Rover ini hanya berbasa-basi sebentar dan langsung meminta kami menjajal deretan aneka jenis Land Rover yang berjejer rapi di pelataran. ”Rasakan pengalaman dan sensasinya,” ujar Charthorne yang selama 30 tahun lebih menunggangi seluruh jenis produk Land Rover di medan-medan paling ekstrem di dunia.

Jangan lewatkan Defender

Namun, meski semua jenis Landie tersedia, Charthorne meminta kami untuk tidak melewatkan Defender, satu-satunya produk modern Land Rover yang bertransmisi manual. Di antara keluarga besarnya, Defender memang paling paling tangguh dan paling dihormati sebagai ”real 4 x 4”.

Didampingi lead instructor, Graham Silvers, Kompas menjajal Defender 110 berbadan panjang. Lintasan miring nyaris 45 derajat bukan halangan.

Tenaga Defender terbaru produksi tahun 2007 dipasok mesin diesel berkapasitas 2,4 liter.

”Konsentrasi saja pada setir. Percayalah pada Land Rover,” ujar Silvers.

Di trek berlumpur dan lintasan sungai, Defender seakan menemukan habitatnya yang paling pas. Pada lintasan air sedalam 0,5 meter, kami nyaris tidak berkerja keras mengendalikan Defender.

Hanya, di lintasan sungai yang lebih dalam, air sedikit merembes masuk melalui kisi pintu bagian bawah. ”Dibandingkan saudara-saudaranya, Defender memang satu-satunya yang tidak memakai lapisan penyekat ganda di sela-sela pintunya,” papar Silvers.

Di lintasan yang agak dalam, suara tepukan air juga terdengar jelas menghantam lantai. Selama beberapa detik, mobil terasa seperti hanyut meski sebenarnya tetap menapak pada permukaan sungai.

Selepas lintasan air, giliran lumpur tebal menghadang, secara otomatis central differential terkunci untuk memungkinkan keempat roda tidak kehilangan pijakan pada permukaan (traksi). Meski bagian ini cukup sulit dan badan mobil sempat limbang-limbung ke samping, kami mampu melewati lintasan sempit ini dengan mulus.

”Lintasan uji coba di Solihull ini memang kami rancang tidak terlalu berat. Besok kita akan menjalani rute yang lebih menantang di Malvern,” tutur Silvers.

”Off-road” di halaman kastil

Seperti janji Silvers, setelah melewati malam yang cerah di hotel cantik, Calcot Manor, Selasa pagi kami berangkat ke Malvern. Tempat yang kami tuju ternyata Kastil Eastnor, milik keluarga Harvey-Bathurst. Keluarga ini selama puluhan tahun punya hubungan sangat hangat dengan Land Rover.

Halaman Kastil Eastnor seluas 5.000 hektar memang sebuah areal yang sangat ideal untuk menguji ketangguhan Land Rover. Hampir semua lintasan ekstrem ada di sini: bukit terjal, lumpur, kerikil, sungai dalam, rumput, alang-alang tinggi, bahkan lintasan berbatu besar.

Kali ini semua varian Land Rover kami coba. Freelander 2 yang punya ground clearence paling rendah (210 mm) di antara saudara-saudaranya, praktis tak mengalami hambatan meski selalu menjadi yang paling belakang dalam iring-iringan.

Versi standarnya yang sudah dilengkapi teknologi hill descent control (HDC) membuatnya sekapabel saudara-saudaranya dalam bermanuver di turunan terjal berbatu. Saat menuruni bukit rumput yang tak kalah terjal dan licin, teknologi HDC Freelander terbukti mumpuni. Pengemudi tinggal memarkir dua kaki di lantai, mobil ini menjalankan sendiri tugasnya dengan sempurna. Hal yang agak mengganggu adalah bunyi derak di keempat piringan remnya. ”Tak masalah. Percaya pada Land Rover,” sekali lagi Silvers meyakinkan Kompas yang sempat panik.

Berurut-turut kami kemudian menjajal Range Rover dan Discovery. Teknologi mutakhir yang diterapkan pada kedua SUV ini membuatnya tidak hanya senyaman sedan premium di jalan raya, tapi juga tangguh di lintasan off-road.

Teknologi terrain response melekat pada dirinya, membuat varian termewah ini membuat ”siapa pun bisa melakukan off-road dengan mudah”. Hanya dengan sentuhan jari pada tombol di konsol tengah, segala medan ekstrem dilaluinya dengan mulus.

”Dengan teknologi secanggih ini, semua orang mendadak jadi off-roader profesional,” ujar Silvers sambil tertawa terbahak-bahak. Hmmm, benar juga!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: