Oleh: I Putu Gede Andy Pandy | Januari 22, 2009

Berita Landrover

Land Rover, Sejuta Kebebasan dari Si Garang

Jakarta – Sosok Land Rover identik dengan kejantanan. Kalau sudah duduk di dalamnya, tiba-tiba tubuh terasa seperti berbeda. Ada desir kegagahan menelusupi diri. Ibarat ksatria menunggang kuda jantan, kegarangan itu mampu mendongkrak percaya diri. Belum lagi sejuta kebebasan yang ditawarkan. Dari situ, rasa cinta pun kian tebal. Wah!
Aha, gambaran di atas bukan cuma cuap-cuap belaka. Ini juga bukan promosi produk. Tapi kira-kira begitulah rangkuman kecintaan para pehobi Land Rover saat ditanya kesan terhadap tunggangan mereka. Landy, sapaan sayang para pehobinya, memang selalu membawa citra kegagahan bagi sang pemilik.
”Wajarlah Landy selalu membawa kesan gagah. Sebab dia memang diciptakan untuk kalangan militer. Apalagi kalau sudah dibalut warna hijau, wah bisa mengubah karakter orang tuh,” kata Edi Mulyanto (50), pehobi Land Rover dari Cipinang Muara, Jakarta. Seseorang yang semula kalem tiba-tiba bisa berubah menjadi garang saat menaiki Land Rover berbaju militer.
Namun menurut pengamatan Edi, kesan gagah itu hanya mampir pada sekitar 75 persen pehobi. Sisanya, terkesan pada kebandelan dan kehandalan performa yang ditampilkan. Tak pernah rewel dan tak bikin susah saat bertualang. Edi sendiri mengaku termasuk ”golongan” terakhir itu.
”Ada dua alasan kenapa saya cinta Landy. Pertama karena mesin Landy jarang ngadat dan kedua tidak menyusahkan sewaktu kita jalan,” sebut Edi dengan semangat. Asalkan kita rajin ngecek dan ngerbersihin tiap bagian, Landy tak pernah buat repot. Pemeliharaan rutin ini bisa dilakukan sendiri alias self service. Mobil yang dirawat itu juga belum tentu harus mengganti suku cadang. Ada bagian yang cukup dibersihkan dan setel-setel sedikit sudah kembali beres. Siap mengantar bertualang ke mana saja.
Karena tak pernah buat repot, Edi tak pernah merencanakan perjalanannya dengan Landy. Nyaris seluruh kisah petualangan karyawan PLN Unit Pelayanan Jaringan Gambir ini selalu dibuat dadakan. Tak ada persiapan khusus untuk mengajak Landy bertualang. Kepercayaannya terhadap kestabilan kendaraan ini untuk melahap rintangan sangat tinggi.
”Dari dulu saya kalau jalan nya tinggal jalan saja. Nggak peduli mau ada rintangan kayak apa di jalan. Pokoknya, ketemu temen ya sudah kita berangkat,” cerita Edi. Kisah dadakan ini lebih banyak terjadi pada saat Edi masih duduk dibangku STM. Bersama keenam rekannya, mereka sering ”cabut” dari sekolah lalu ngeluyur dengan Landy menuju Bandung. ”Dulu kodenya cuma kedipan mata. Begitu kumpul, kita langsung cabut ke Soreang, ke arah Palayangan. Biasanya kita berangkat hari Rabu, pulangnya hari Sabtu,” kekeh Edi bernostalgia.
Sekitar tahun 1978, sepulang jalan cari angin, pria yang gemar keluyuran ini bertemu karibnya di terminal bus. Rekannya itu ingin mudik ke Serang. Maklum waktu itu, dua hari lagi jatuh hari raya Idul Fitri alias Lebaran. Lantaran susah mobil, Edi tak tega meninggalkan sang kawan begitu saja. Akhirnya, lagi-lagi tanpa persiapan, berangkatlah Landy dan sang tuan menuju Serang, mengantarkan sang rekan. ”Alhamdulillah, selama dua hari bolak-balik, si Landy nggak ada masalah.”
Persentuhan Edi dengan Land Rover sebetulnya sudah dimulai pada 1965. Ketika itu ia masih duduk di bangku kelas enam SD. Pada saat yang sama, orang tuanya mendapat lelang keluarga sebuah Land Rover seri I keluaran ‘58. Semuanya masih orisinal dan standar militer.
Setelah beberapa kali berganti tipe, akhirnya mulai tahun 1984 Edi mengandalkan seri 3 lansiran ‘76 chasis pendek. Ceritanya, Land Rover yang bagian atap belakangnya diganti dengan kanvas orisinal itu didapat dari lelang kantor. Pintu belakangnya juga orisinal. Pecah dua tanpa embel-embel kaca.

Tak Ingin Terikat
Kebebasan pria ramah ini tampaknya betul-betul tersalurkan lewat hobi satu ini. Jiwa yang tak ingin terikat itu pun tercermin ketika ia memilih untuk tidak bergabung dalam sebuah klub atau perkumpulan. Padahal, Edi dikenal sebagai salah seorang motor yang menghidupkan kembali denyut Land Rover Club Indonesia (LRCI). Klub Land Rover tertua di Indonesia itu sempat tertidur selama delapan tahun. Sebelumnya, klub ini bernama Rover Club Indonesia.
”Waktu pembentukan pengurus pada akhir 1997, saya menyatakan mundur. Saya memang tak mau terikat. Yang penting bebas, bisa jalan ke mana saja,” aku Edi.
Kondisi yang sama juga bisa ditemui di Bandung. Sayid Budiseno, dosen jurusan Teknik Komputer Politeknik ITB berujar, ”Kami tak ingin terikat pada aturan yang nantinya malah membelenggu dan mengurangi apresiasi kami pada Land Rover itu sendiri. Toh buktinya kami bisa kumpul, tukar pikiran, bahkan jalan-jalan bareng dengan mudah.”
Ist
Tanjakan makanan empuk untuk Land Rover.
Dalam posisi seperti itu, ia tampak seperti ”termos”
yang sedang manjat.
Karena itu pula pemilik Land Rover di Bandung tak memerlukan adanya wadah paguyuban. Ini lantaran interaksi satu sama lain muncul akibat bentuk penghargaan atau penghormatan pada yang lebih ‘senior’.
Walau tak ada ikatan formal, bukan berarti persaudaraan renggang. Gotong royong khas masyarakat tradisional tetap kentara. Buktinya, seorang pehobi Land Rover tak pernah merasa keberatan untuk sharing meningkatkan ilmu. David, pehobi dari Bandung punya seabrek koleksi literatur, berupa majalah, VCD dan buku serba Land Rover yang memenuhi ‘perpustakaan’ pribadi di rumahnya. Ia selalu terbuka bagi siapa saja untuk mampir mengecas pengetahuan.
”Saya jadi anggota Land Rover Owner International,” ujar David sembari memperlihatkan kartu anggota yang ditebusnya beberapa tahun lalu. Dengan selembar kartu plastik kuning itu, ia bebas mengakses informasi dan berhak mengikuti paket off-road driving school dari koleganya di Inggris.
Di Kota Kembang, komunitas Land Rover pun tumbuh subur. Tiap sudut kota rasanya tak bisa dilepaskan dari kehadiran kendaraan eksotik ini. Coba saja lirik kiprah Tatang Kardin yang wara-wiri dengan seri I keluaran ‘56 misalnya. ”Saya pakai sehari-hari untuk membantu usaha saya di sektor perkebunan kentang,” aku pria yang berdomisili di Jalan ‘jeans’ Cihampelas itu.
Perkembangan Land Rover yang terus menggeliat itu diakui Edi. Tiap tahun ada saja yang ”melarikan diri” ke dunia Land Rover. Sayangnya, kondisi ini hanya bisa ditemukan di daerah Jawa saja. Di Sumatera, populasinya kurang banyak. ”Banyak Landy bekas dari sana yang telah ”diserap” habis ke Jawa, terutama Jakarta, Bandung dan Banten,” tukas Edi yang sempat turing ke Labuhan bersama Herman Citarik – sesepuh Rover Club Indonesia – dan H. Benny – putra angkat Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada 1997.
(SH/bayu dwi mardana
/didiet b. ernanto/gatot irawan)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: