Oleh: I Putu Gede Andy Pandy | Maret 19, 2009

Upaya Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim dari Rancang Bangun Interior

Latar Belakang
ISU pemanasan global masih menghangat di segala bidang kehidupan. Berbagai upaya terus dilakukan untuk menghambat pemanasan bumi, perubahan iklim secara ekstrem, dan degradasi kualitas lingkungan.

Manusia sebagai subyek pengolah lingkungan adalah sebagai faktor utama penyumbang perubahan pada lingkungan hidup . Adanya pertumbuhan penduduk dan terjadinya urbanisasi menjadikan banyaknya tumbuh akomodasi rumah tinggal dan sarana lainnya dalam pembangunan lingkungan. Pembangunan perumahan semakin terlihat di beberapa tempat, tetapi mereka kurang memperhatikan lingkungannya. Membangun rumah yang ekologis dan ramah lingkungan tidak sesulit yang dibayangkan. Diperlukan pemikiran khusus yang menyeluruh dan seimbang antara bangunannya secara fisik, manusia penghuninya dan lingkungan sekitarnya.

Terkait dengan kehidupan manusia di dalam pemanfaatan ruang, manusia hidup dalam ruang, baik ruang dalam dan ruang luar. Kedua ruang saling mempengaruhi, hidup di dalam ruang yang nyaman karena ruang luar dan lingkungan yang nyaman. Lingkungan yang nyaman bila kita bisa memulai dengan pengaturan ruang dalam yang nyaman. Di satu sisi, perancangan ini belum memikirkan aspek berkelanjutan, dimana hanya memikirkan bagaimana kita bisa hidup nyaman hari ini tanpa memikirkan bagaimana kita hidup nyaman untuk seterusnya.

Semakin menurunnya kondisi lingkungan luar, memberikan pengaruh pada menurunnya kualitas hidup. Untuk itu dirasa perlu adanya upaya perbaikan untuk meminimalisasi efek-efek negatif baik pada manusia maupun pada lingkungan. Perancangan interior dan arsitektur yang baik dapat menjadi bagian dari upaya untuk turut serta dalam penyelamatan dan penyehatan lingkungan. Interior berorientasi ekologis dapat merupakan salah satu jawaban untuk dapat memberikan kontribusi baik bagi penghuni maupun lingkungan.

Mengenai konsep bangunan khususnya di Indonesia yang beriklim tropis, sebenarnya kita telah memiliki warisan dan kearifan lokal dari segi arsitektur tradisionalnya, tetapi model pembangunan rumah dan fasilitas bangunan lainnya cenderung mengabaikan kondisi iklim kita dan terlalu mengikuti trend bergaya tertentu. Sehingga bangunan harus “terpaksa” berdiri di tengah kondisi iklim kita. Hal ini menyebabkan ketidak nyamanan penghuni yang beraktifitas dalam ruang.

Kondisi iklim tropis sebenarnya sangat menunjang kehidupan kita yang beraktifitas di dalam ruang. Dengan pemanfaatan kondisi iklim seperti arah dan intensitas sinar matahari, kelembaban udara, suhu, arah dan kecepatan angin, dan curah hujan, sebenarnya dapat dirancang bentuk bangunan yang sedemikian rupa, dan penerapan bahan – bahan alami, sehingga terwujudlah rumah yang ramah lingkungan. Penerapan ini tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh penghuni rumah tetapi juga oleh orang lain dan lingkungannya. Dan tidak hanya diperhitungkan untuk kepentingan sesaat, tetapi untuk kepentingan masa depan, dan juga dilihat dari sisi pemanfaatan energi untuk kepentingan sustainable atau berkelanjutan.

Melihat kondisi tersebut, diperlukan adanya mitigasi dan dan/atau upaya adaptasi terhadap perubahan iklim di Bali khususnya, upaya mengurangi efek rumah kaca sehingga dapat memperlambat laju pemanasan global. Diperlukan pemikiran khusus dari sisi perancangan interior dan arsitektur bangunan ke depannya. Adanya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung mendorong pembangunan bangunan berarsitektur lokal terasa lebih ramah lingkungan dan selaras dengan lingkungan asal. Desain bangunan (green building) hemat energi, membatasi lahan terbangun, layout sederhana, ruang mengalir, kualitas bangunan bermutu, efisiensi bahan, dan material ramah lingkungan (green product).

Bangunan dirancang dengan massa ruang, keterbukaan ruang, dan hubungan ruang luar-dalam yang cair, teras lebar, ventilasi bersilangan, dan void berimbang yang secara klimatik tropis berfungsi untuk sirkulasi pengudaraan dan pencahayaan alami merata ke seluruh ruangan agar hemat energi.

Konsep green building atau bangunan ramah lingkungan didorong menjadi tren dunia bagi pengembangan properti saat ini. Bangunan ramah lingkungan ini punya kontribusi menahan laju pemanasan global dengan membenahi iklim mikro.

Dengan pemikiran seperti diatas, merupakan langkah awal upaya mitigasi dari sisi perancangan, dan berupaya terus beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang terus berubah ekstrim tersebut.

Upaya Adaptasi dan Mitigasi terhadap Dampak Perubahan Iklim
Mitigasi dalam kamus john m. echols dan hassan shadily atinya pengurangan. Sedangkan adaptation atau adaptasi artinya penyesuaian diri. Kedua istilah ini menjadi penting, karena itu strategi kita menghadapi perubahan alam. Kita memang beruntung masih bisa bertahan hidup hingga sekarang. Namun para scientist terkemukapun tidak mampu memprediksi apa yang akan dilakukan oleh alam untuk mencapai keseimbangan. Dengan laju kenaikan suhu yang seperti sekarang ini, ditakutkan dapat terjadi lonjakan yang lebih cepat lagi di masa depan.

Adaptasi terhadap dampak perubahan iklim adalah salah satu cara penyesuaian yang dilakukan secara spontan atau terencana untuk memberikan reaksi terhadap perubahan iklim yang diprediksi atau yang sudah terjadi. Mitigasi adalah kegiatan jangka panjang yang dilakukan untuk menghadapi dampak dengan tujuan untuk mengurangi resiko atau kemungkinan terjadi suatu bencana. Kegiatan lebih lanjut dari mitigasi dampak adalah kesiapan dalam menghadapi bencana, tanggapan ketika bencana dan pemulihan setelah bencana terjadi (Murdiyarso, 2001). Berbagai sektor akan terpengaruh oleh adanya perubahan iklim. Garis besar dampak dan upaya adaptasi yang dapat dilakukan disarikan oleh IPCC (IPCC, 2001)

Indonesia tidak termasuk dalam negara katagori Annex I (negara-negara maju ) menurut penggolongan IPCC. Menurut UU no 6 tahun 1994, yaitu UU pengesahan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang perubahan iklim, Indonesia tidak wajib ikut menekan emisi GRK, tetapi hanya bersifat sukarela. Menurut UU lingkungan hidup no 23 tahun 1997, menjaga kelestarian lingkungan hidup adalah suatu yang harus dilakukan agar pembangunan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Jadi upaya mengurangi laju emisi GRK menjadi keharusan dalam rangka melestarikan lingkungan.

Dalam UU no 6 tahun 1994 jika negara bukan anggota Annex I ikut dalam upaya menekan emisi GRK ataupun melakukan upaya-upaya adaptasi terhadap dampak perubahan iklim, maka dalam melakukan upaya tersebut berhak menggunakan dana Climate Change Fund yang disediakan oleh UNFCC. Agar dapat memanfaatkan dana ini Indonesia harus melakukan beberapa tahapan antara lain ( Murdiyarso, 2001 ; Boer, 2001):
1. Penyusunan data base dan sistim informasi
2. Kajian ilmiah dan kemampuan prediksi serta analisis dampak perubahan iklim
3. Menyusun Building Capacity dalam rangka adaptasi terhadap dampak perubahan iklim
4. Menyiapkan kelembagaan di tingkat pusat dan daerah
5. Menyiapkan perangkat hukum dan perundangan
6. Meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat.

( Tulisan ini Merupakan latar belakang pemikiran dalam upaya kita sebagai desainer untuk adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim – tugas M.K. Metodologi Penelitian S2 Lingkungan-UNUD )

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: