Oleh: I Putu Gede Andy Pandy | Maret 19, 2009

NILAI KEARIFAN LOKAL PADA PINTU TRADISIONAL BALI

A. Pendahuluan
Pintu dalam filosofi dan pemahaman arsitektur Bali memiliki peran sentral. Bagi orang Bali pintu memiliki nilai-nilai simbolis yg berkaitan dengan hal-hal tertentu. Misalnya gerbang pintu masuk Pura (tempat ibadah agama Hindu Bali) yg biasa disebut angkul-angkul merupakan perlambang bentuk gunung. Atau gerbang pintu masuk rumah Bali atau disebut Kori yg melambangkan vagina yg dipahami sebagai pintu masuk menuju kehidupan manusia.

Berjalan seiring waktu manusia mengalami perkembangan dan modernisasi merupakan agen utamanya. Seperti tak ingin ketinggalan, seniman-seniman ukir Bali mulai mengembangkan desain pintu ukirnya, dengan desain yg lebih modern sesuai dengan gaya hidup kekinian. Desain motif-motif ukirannya lebih sederhana dan tak terlalu banyak. Tetapi tanpa menghilangkan spirit ke-bali-annya hasilnya adalah desain pintu ukir Bali modern.
Pintu utama memiliki peran penting dalam kehidupan kita dan sering diibaratkan sebagai pembatas antara wilayah umum dan wilayah pribadi. Ia dapat memberi rasa aman dan nyaman dalam kehidupan seseorang. Bagaikan seorang manusia, arsitektur tradisional Bali dianggap memiliki kepala, badan, dan kaki. Ia juga dianggap memiliki jiwa, fisik, dan tenaga.
Berbicara mengenai pintu masuk tradisional Bali tidak terlepas dari kajian arsitektur tradisional Bali yang bukan saja mengenai ornamen yang diambil dari bahan-bahan alam lokal. namun menekankan pada mensinergikan energi-energi alam dengan menggunakan filosofi yang dianut masyarakat Hindu. Secara sederhana filosofi itu menggambarkan tempat yang lebih tinggi dinilai memiliki energi yang lebih suci. Maka gunung selalu menjadi patokan. Selain dianggap suci gunung juga menjadi sumber kemakmuran. Sehingga banyak pintu masuk ke tempat – tempat suci yang mengarahkan kita sebagai pemeluk Hindu untuk menghadap ke Gunung.

Untuk itu dipandang menarik untuk membahas pintu masuk tradisional Bali dalam sudut pandang pemaknaan kearifan lokal dalam penerapannya pada kehidupan kita sehari – hari.

B. Kajian Pustaka
Suku bangsa Bali merupakan suatu kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan kebudayaannya, sedangkan kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. Walaupun ada kesadaran yang demikian namun kebudayaan Bali mewujudkan banyak variasi dan perbedaan setempat. Di samping itu agama Hindu yang telah lama terintegrasikan ke dalam kebudayaan Bali dirasakan pula sebagai suatu unsur yang memperkuat adanya kesadaran akan kesatuan itu.

Dalam bahasa Bali, kaja berarti ke (arah) gunung dan kelod berarti ke (arah) laut. Dengan demikian untuk orang Bali Utara, kaja berarti selatan, sebaliknya untuk orang Bali Selatan, kaja berarti utara. Begitu juga kelod bagi orang Bali Utara berarti utara dan untuk orang Bali Selatan berarti selatan. Perbedaan ini tidak saja tampak dalam penunjukan arah dalam bahasa Bali, tetapi juga dalam beberapa aspek kesenian dan juga sedikit bahasa. Orang Bali menyebut daerah di bagian utara itu sebagai Den Bukit (kabupaten Buleleng sekarang) dan daerah-daerah di bagian selatan sebagai Bali Tengah (kabupaten Tabanan, Badung, Gianyar, Klungkung). Adapun mengenai arah timur (kangin) sifatnya disamakan dengan arah kaja dan barat (kauh) disamakan dengan kelod. Arah-arah ini sama baik di Bali Utara maupun Selatan

Dalam asta kosala-kosali disebutkan bahwa aturan-aturan pembuatan sebuah rumah harus mengikuti aturan aturan anatomi tubuh sang empunya pemilik rumah dengan dibantu sang undagi sebagai pedanda atau orang suci yang mempunyai kewenangan membantu membangun rumah atau pura. Dan terdapat ukuran-ukuran atau dimensi yang didasarkan pada ukuran atau dimensi yang didasarkan pada ukuran jari-jari si pemilik rumah yang akan menempati rumah tersebut. Seperti Musti, yaitu ukuran atau dimensi untuk ukuran tangan mengepal dengan ibu jari yang menghadap ke atas. Hasta untuk ukuran sejengkal jarak tangan manusia dewata dari pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka. Depa untuk ukuran yang dipakai antara dua bentang tangan yang dilentangkan dari kiri ke kanan.

Rumah tinggal masyarakat Bali sangat unik karena rumah tinggal tidak merupakan satu kesatuan dalam satu atap tetapi terbagi dalam beberapa ruang-ruang yang berdiri sendiri dalam pola ruang yang diatur menurut konsep arah angin dan sumbu gunung Agung. Hal ini terjadi karena hirarki yang ada menuntut adanya perbedaan strata dalam pengaturan ruang-ruang pada rumah tinggal tersebut. Seperti halnya tempat tidur orang tua dan anak-anak harus terpisah, dan juga hubungan antara dapur dan tempat pemujaan keluarga. Untuk memahami hirarki penataan ruang tempat tinggal di Bali ini haruslah dipahami keberadaan sembilan mata angin yang identik dengan arah utara, selatan, timur dan barat.

Bagi mereka arah timur dengan sumbu hadap ke gunung Agung adalah lokasi utama dalam rumah tinggal, sehingga lokasi tersebut biasa dipakai untuk meletakkan tempat pemujaan atau di Bali di sebut pamerajan. Untuk mengetahui pola ruang rumah tradisional Bali maka sebaiknya kita mengenali bagian-bagian ruang pada rumah tinggal tradisional Bali:
1. Angkul-angkul yaitu entrance yang berfungsi seperti candi bentar pada pura yaitu sebagai gapura jalan masuk. Angkul-angkul biasanya teletak di kauh kelod.
2. Aling-aling adalah bagian entrance yang berfungsi sebagai pengalih jalan masuk sehingga jalan masuk tidak lurus kedalam tetapi menyamping. Hal ini dimaksudkan agar pandangan dari luar tidak langsung lurus ke dalam. Aling-aling terletak di kaluh kelod.
3. Latar atau halaman tengah sebagai ruang luar.
4. Pamerajan ini adalah tempat upacara yang dipakai untuk keluarga. Dan pada perkampungan tradisional biasanya setiap keluarga mempunyai pamerajan yang letaknya di kaja kangin pada sembilan petak pola ruang.
5. Umah Meten yaitu ruang yang biasanya dipakai tidur kapala keluarga sehingga posisinya harus cukup terhormat yaitu di kaja.
6. Bale tiang sanga biasanya digunakan sebagai ruang untuk menerima tamu yang diletakkan di lokasi kauh.
7. Bale Sakepat, bale ini biasanya digunakan untuk tempat tidur anak-anak atau anggota keluarga lain yang masih junior. Bale sakepat biasanya terletak di kelod.
8. Bale Dangin biasanya dipakai untuk duduk-duduk membuat benda-benda seni atau merajut pakaian bagi anak dan suaminya. Bale Dangin terletak di lokasi kangin.
9. Paon yaitu tempat memasak bagi keluarga, posisinya berada pada kangin kelod.
10. Lumbung sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen, berupa padi dan hasil kebun lainnya.

Sistem konstruksi pada arsitektur tradisional Bali mempertimbangkan konsep yang dinamakan tri angga, yaitu sebuah konsep hirarki dari mulai nista, madya dan utama.

“Nista” menggambarkan suatu hirarki paling bawah suatu tingkatan, yang biasanya diwujudkan dengan pondasi bangunan atau bagian bawah sebuah bangunan sebagai penyangga bangunan diatasnya. Atau bila dalam tiang kolom. Materialnya dapat terbuat dari batu bata atau batu gunung. Batu bata tersebut tersusun dalam suatu bentuk yang cukup rapi sesuai dengan dimensi ruang yang akan dibuat pada permukaan batu bata atau batu gunung dibuat semacam penghalus sebagai elemen leveling yang rata. Atau merupakan plesteran akhir nista juga digambarkan sebagai alam bawah atau alam setan atau nafsu.

“Madya” adalah bagian tengah bangunan yang diwujudkan dalam bangunan dinding, jendela dan pintu. Madya mengambarkan strata manusia atau alam manusia.

“Utama” adalah simbol dari bangunan bagian atas yang diwujudkan dalam bentuk atap yang diyakini juga sebagai tempat paling suci dalam rumah sehingga juga digambarkan tempat tinggal dewa atau leluhur mereka yang sudah meninggal. Pada bagian atap ini bahan yang digunakan pada arsitektur tradisional adalah atap ijuk dan alang-alang.
Untuk menampilkan kesan tradisional yang kental, gerbang dibuat dari batu candi yang bertekstur kasar, khas gapura di candi-candi Hindu-Buddha Jawa. Sedangkan pintu gerbang di Bali lebih banyak memakai bahan batu bata yang merupakan sisa-sisa peninggalan zaman Majapahit. Keterbatasan bahan batu candi tidak menghalangi kreativitas membuat gerbang berkesan sama dengan bahan tersebut. Bahan yang dipilih lebih disesuaikan dengan bangunan gerbang, baik dari batu candi, batu kali, atau perkerasan beton ekspos koral atau motif lainnya.
Persilangan garis horisontal sumbu bumi dengan garis vertikal religi, menjadi pedoman pembagian tata ruang dalam arsitektur tradisional Bali. Jika persilangan ini diikuti oleh persilangan tiap sudutnya, maka terwujudlah kemudian apa yang disebut Sanga Mandala (sembilan ruang) yang berpusat pada sumbu bumi.
Di sini kemudian terdapat apa yang disebut 1) Angkul-angkul (gapura), 2) Natah (halaman tengah), 3) Sanggah (pura keluarga) letaknya di timur laut) 4) Umah Meten (paviliun untuk kepala keluarga) letaknya di utara, 5) Bale Tiang Sanga (paviliun tamu) letaknya di barat, 6) Bale Sakepat (paviliun untuk anak-anak) di Selatan, 7) Bale Sakenem (bangunan di mana sering dilakukan ritual), 8) Paon (dapur) letaknya di barat daya, dan 9) Jineng (lumbung padi) letak-nya di tenggara.
Hunian pada masyarakat Bali, ditata menurut konsep Tri Hita Karana. Orientasi yang digunakan menggunakan pedoman-pedoman seperti tersebut diatas. Sudut utara-timur adalah tempat yang suci, digunakan sebagai tempat pemujaan, Pamerajan (sebagai pura keluarga). Sebaliknya sudut barat-selatan merupakan sudut yang terendah dalam tata-nilai rumah, merupakan arah masuk ke hunian.

Ditengah-tengah hunian terdapat natah (court garden) yang merupakan pusat dari hunian. Umah Meten untuk ruang tidur kepala keluarga, atau anak gadis. Umah meten merupakan bangunan mempunyai empat buah dinding, sesuai dengan fungsinya yang memerlukan keamanan tinggi dibandingkan ruang-ruang lain (tempat barang-barang penting & berharga). Pada bagian ini terdapat bangunan Jineng (lumbung padi) dan paon (dapur). Berturut-turut terdapat bangunan-bangunan bale tiang sangah, bale sikepat/semanggen dan Umah meten. Tiga bangunan (bale tiang sanga, bale sikepat, bale sekenam) merupakan bangunan terbuka.

Pada pintu masuk (angkul-angkul) terdapat tembok yang dinamakan aling-aling, yang tidak saja berfungsi sebagai penghalang pandangan ke arah dalam (untuk memberikan privasi), tetapi juga digunakan sebagai penolak pengaruh-pengaruh jahat/jelek. Hadirnya aling-aling ini, menutup bukaan yang disebabkan oleh adanya pintu masuk. Sehingga dilihat dari dalam hunian, tidak ada perembesan dan penembusan ruang. Keberadaan aling-aling ini memperkuat sifat ruang positip yang ditimbulkan oleh adanya dinding keliling yang disebut oleh orang Bali sebagai penyengker. Ruang di dalam penyengker, adalah ruang dimana penghuni beraktifitas. Adanya aktifitas dan kegiatan manusia dalam suatu ruang disebut sebagai ruang positip. Penyengker adalah batas antara ruang positip dan ruang negatif.

C. Fungsi Manifes dan Fungsi Laten Pintu Tradisional Bali
Pintu gerbang dilengkapi dengan dua patung Dwarapala lengkap dengan gadanya sebagai penjaga pintu gerbang untuk menambah kesan “angker” dan mempertegas bukan sembarang orang dapat masuk ke dalam rumah. Tetapi, bisa juga dipilih patung dewi yang terasa lebih manis, cantik, dan eksotik, sekaligus menghilangkan kesan angker gerbang.
Pada bangunan tradisional, sebelum memasuki halaman rumah, kita biasanya melewati pintu gerbang. Dalam pemahaman sederhana, filosofi pintu gerbang dimasukkan sebagai ruang perantara (pembersih diri) sebelum memasuki ruang suci, yakni rumah sebagai kediaman pribadi yang sakral. Sakral, karena rumah hanya dapat dimasuki oleh orang-orang tertentu, tidak sembarang orang dapat keluar masuk ke dalam rumah. Maka pintu gerbang pun dibuat dalam skala manusia, hanya cukup untuk dilalui manusia secara bergantian (budaya antre).
Anak tangga pintu gerbang cenderung dari lebar menyempit naik ke arah pintu utama, kemudian turun melebar kembali. Ini merupakan agar kita bisa lebih hati – hati menaiki tangga dan bisa bergantian dan antri, apalagi yang diterapkan pada pintu masuk angkul – angkul bangunan suci agar kita bias lebih tenang memasuki kawasan suci dan tidak saling mendahului sehingga kita benar – benar bisa sembhayang dengan hening dan khidmat.
Dalam rumah tangga untuk mencapai pintu gerbang pun menandakan sebuah pencapaian hidup, rumah sebagai status sosial, harus melalui tahapan-tahapan yang melelahkan dan membutuhkan kesabaran. Secara filosofi, kesuksesan penghuni rumah tidak bisa diperoleh secara instan (dadakan, jalan pintas, tiba-tiba) untuk mencapai kebahagiaan hidup.
Pada pintu masuk ruang kamar, hampir sama dengan pintu gerbang atau angkul – angkul, kadang sengaja dibuat lebih pendek dan ada undakan kecil pada bagian kaki, ini menandakan bahwa seseorang yang akan memasuki wilayah privat agar berhati – hati dan “menunduk” yang artinya “hormat” pada penghuni rumah.

D. Kesimpulan

Seperti satu contoh dalam pembahasan tentang pintu masuk tradisional Bali yang merupakan bagian dari arsitektur tradisional Bali adalah refleksi bagaimana kita hidup, berkehidupan dan berpenghidupan serta memperlakukan alam dengan segala isinya. Kekuatan alam, simbol-simbol kebaikan dan keburukan, dan berbagai empiri yang dilakukan dari generasi – ke generasi, diwujudkan ke dalam berbagai analogi yang sarat dengan makna. Pintu masuk tradisional Bali adalah analogi sekaligus simbol yang dipercaya dapat memberikan kebahagiaan, kesehatan, rejeki dan juga sebaliknya.

Upaya ini mengingatkan kita akan berbagai upaya masyarakat Bali untuk tetap mengedepankan nilai-nilai adiluhung para leluhurnya, seperti Rwa Bhineda, Tat Twam Asi, Tri Hita Karana dan sebagainya.

Hanya saja perlu diperhatikan bahwa pengedepanan dalam konteks pelestarian tidak harus diterapkan sebagaimana masa lalu, tetapi sesuai dengan dewa, kala, dan patra, kekinian dan yang akan datang, Dengan demikian arsitektur Bali tidak hanya ajeg, tetapi justru akan menjadi kaya dan semakin unik.
Seperti halnya pintu masuk yang memang memiliki pesona tersendiri. Jika didesain secara khusus, pintu masuk akan dapat tampil cantik, menawan, dan artistik, yang menambah keindahan rumah. Kesatuan bentuk struktur, bahan bangunan, dan warna yang senada antara pintu masuk dan bangunan rumah secara keseluruhan, jelas akan menambah keindahan rumah. Keunikan pintu gerbang sebagai pembatas, perantara, pengarah, dan pengantar dari ruang luar ke ruang dalam yang memiliki fungsi berbeda juga mulai diterapkan di halaman luar sebagai bagian dari taman-taman di hotel, resor, apartemen, dan kompleks perumahan bernuansa tradisional.
Sehingga fungsi – fungsi manifest dan laten yang tersembunyi dari penarapan dan pemaknaan konsep pintu tradisional Bali ini tetap terjaga kelestariannya dan tetap berkembang sesuai jaman keberadaannya.

Daftar Referensi

http://bali-natural.blogspot.com ( 09 November 2008 )

http://jpbond19.blogspot.com/2008/11/kebudayaan-bali.html

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0407/09/rumah/ 1138357.html

Catatan Kuliah S1, I Putu Gede Andy Pandy, Program Studi Seni Rupa Dan Desain Universitas Udayana


Responses

  1. bisakah anda jelaskan apa refleksi dari ajaran tri hita karana dalam konsep ajeg bali???

    • Tri hita karana…selaras dengan Sang Pencipta..selaras dengan Alam dan selaras dengan Sesama……..dan Ajeg Bali…. menurut sudut pandang saya adalah (bagaimana) membuat bali tetap “jejeg”, tetap tegak..tetap lestari..tetap ada..apakah budayanya..alamnya…adat istiadat dan kepercayaannya…..sistem kekerabatan dan cara pandang orang Bali dalam status sosialnya…jadi sangatlah jelas dari uraian singkat saya tersebut bahwa refleksi dari ajaran Tri Hita Karana merupakan hal yang sangat mendasar dalam konsep ajeg Bali, satu contoh kecil…selaras dengan Sang Pencipta..masih adanya upacara2 Dewa Yadnya (salah satu dari Panca Yadnya) yang sampai sekarang tetap bisa kita lihat “wujudnya” dalam keseharian umat Hindu….di rumah2..di Banjar2..di Pura Dadia..di Pura2 besar dan Sad Kahyangan….satu contoh lagi…selaras dengan alam ( ini masih perlu diperbaiki )…pernahkah Saudara mendengar upacara Tumpek Landep..Tumpek kandang dan Tumpek Ubuh…?..yang inti makna dari upacara tersebut adalah menyiratkan bagaimana kita memelihara Alam beserta isinya ( Binatang dan Tumbuhan)…dan satu contoh lagi….selaras dengan sesama…sampai sekarang sistem sosial dan kekerabatan di Bali yang kita kenal dengan me-banjar, masih tetap eksis dan konsep gotong royong pada pola banjar ini masih tetap ada, walaupun sudah terkondisikan oleh kehidupan baru perkotaan yang serba “urban life“, ok demikian uraian saya, semoga berkenan…sehat dan sukses selalu, semoga kebaikan selalu menyertai kehidupan kita..dari segala penjuru dunia…terima kasih

  2. bs minta gambar2 ato foto2 ukiran pintu bermotif bali ga?
    klo ada,tlng d kirim k email saya ya….

  3. bs berikan contoh2 ukiran pada Front view rumah tradisional Bali (sekitar Pintu masuk / Jendela depan). kalau bisa kirim ke email saya @ terima kasih

    • maaf Pak, kami baru buka dan kebetulan sangat sibuk, coba cari di Google Image, klik ukiran bali, banyak Koq, trims

  4. Saya mau tanya Pak, Saya rencana mau bikin angkul-angkul tetapi yang menjadi pemikiran yaitu masalah lebarnya pintu masuk, apakah bisa membuat gerbang yang lebar agar sekalian bisa mobil masuk, ataukah harus gerbangnya kecil tapi untuk tempat masuk mobil dibuatkan peletasan khusus. mohon penjelasanya …. info bisa lewat email : dar.nat77@yahoo.co.id
    Trimakasih……


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: