Kesadaran individu dalam masyarakat mengenai lingkungan hidup dan kelestariannya merupakan hal yang amat penting dewasa ini di mana pencemaran dan perusakan lingkungan merupakan hal yang sulit dihindari. Kesadaran masyarakat yang terwujud dalam berbagai aktifitas lingkungan maupun aktifitas kontrol lainnya adalah hal yang sangat diperlukan untuk mendukung apa yang dilakukan pemerintah melalui kebijakan-kebijakan penyelamatan lingkungannya.

Dengan begitu kita bisa mengatakan bahwa kesadaran masyarakat akan lingkungannya adalah suatu bentuk dari toleransi ini. Toleransi atau sikap tenggang rasa adalah bagian dari konsekuensi logis dari kita hidup bersama sebagai makhluk sosial. Melanggar konsekuensi ini juga berarti melanggar etika berkehidupan bersama. Seperti dikatakan Plato bahwa manusia adalah makhluk sosial yang perlu menghargai satu dan lainnya. Jadi ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan sebagai berikut :

  1. Rasa tepo seliro yang cukup tinggi, dan tidak terlalu ingin mengganggu.
  2. Tidak memikirkan akibat yang akan terjadi, sepanjang kehidupan saat ini masih berjalan dengan normal.
  3. Kesadaran melapor (jika ada hal-hal yang tidak berkenan dan dianggap sebagai melawan hukum lingkungan) nampaknya masih kurang. Hal ini dirasakan akan mengakibatkan masalah lingkungan semakin panjang.
  4. Tanggungjawab mengenai kelestarian alam masih perlu diperbaiki dan ditingkatkan kembali.

Melihat hal tersebut, sangatlah penting menggugah kesadaran kita sebagai manusia yang sebenarnya paling rentan menerima perubahan iklim yang ekstrim tersebut.

Oleh: I Putu Gede Andy Pandy | Maret 24, 2009

Land Rover Defender SVX Edisi 60 Tahun

Untuk memperingati 60 thun lahirnya Defender, Land ROver meluncurkan edisi khusus yang berkode SXV. Mobil ini tersedia dalam dua varian, yaitu : station wagon dan soft top atau atap terbuka, yang hanya diproduksi terbatas sebanyak 300 unit. SVX merupakan Defender pertama yang dilengkapi berbagai peranti elektronik canggih.

Dari dua varian itu, versi atap terbuka diprediksikan menjadi incaran para penggemar Land Rover. Ini karena untuk pertama kalinya dalam dua dekade terakhir diproduksi varian Land Rover Defender Soft Top. Di Inggris harga jualnya ditawarkan pada kisaran Rp. 553.48 juta per unit. Defender SVX menggunakan sasis yang sama dengan Defender versi standar. Hanya bedanya pada aksesori yang melekeat di kabin dan bodi, seperti pemasangan jok buataun Recaro, ban berukuran besar, gril warna perak dan lingkar lampu utama lebih besar. Di dalam kabin desain jok baru dibuat lebih nyaman dan mewah sehingga memberikan posisi duduk yang ideal bagi penumpang dan pengemudi. Bahkan, sesuai dengan perkembangan teknologi elektronik, kabin dilengkapi dengan konektivitas iPod, navigasi satelit, dan perangkat sound system modern.

Tenaga penggeraknya adalah mesin Ford tubodiesel 2.4 liter terbaru yang telah dibekali teknologi direct-inection sehingga mampu mengeluarkan teanga besar, hemat bahan bakar dan ramah lingkungan. Sebagai perbandingan model Defender standar menggunakan mesin deisel Transit 2.4 liter yang berteknologi kuno. Seperti umumnya model Defender, performa off road mobil sangat baik karena ketinggian bodi dari tanah yang mencukupi dan jarak sumbu yang dirancang sesuai medan tanah.

Agar lebih nyaman dalam mengendalikan mobil ini, para insinyur Land Rover menambahkan peranti elektronik differential yang membuat pembagian tenaga bisa diatur sesuai kondisi medan dan kebutuhan. Tidak hanya itu, SVX dilengkapi juga dengan kontrol traksi elektronik ynutk mencegah mobil slip. SVX memiliki semua keinginan yang selama ini dicari para penggemar Land Rover. Sama seperti Defender khusus edisi ulang tahun ke-50, SVX akan menjadi barang kolektor.

Kini Defender edisi 50 tahun yang berwarna hijau dan putih memiliki harga yang sangat tinggi. Land Rover Defender pertama kali diperkenakan pada Amsterdam Motor Show pada tahun 1948. Kini Land Rover dimiliki raksasa otomotif India yang dibelinya dari Ford pada awal tahun 2008.

Source : Harian Pikiran Rakyat

Oleh: I Putu Gede Andy Pandy | Maret 22, 2009

Law Of Attraction

Adalah Hukum ketertarikan, merupakan segala sesuatu yang saya pikirkan dengan segenap perhatian, energi, dan konsentrasi pikiran, baik hal positif maupun hal negatif, akan datang ke dalam kehidupan saya….

Buku tulisan Michael J. Losier ini mengungkapkan tentang bagaimana pikiran kita akan menuntun kita pada apa yang kita inginkan…bagaimana kita memahami kehidupan yang anda jalani dan mengubahnya menjadi apa yang anda inginkan…

Saya sedang membaca buku ini, walaupun baru kurang dari setengah halaman buku ini, saya merasakan getaran yang bisa memotivasi kita untuk lebih berpikiran positif dan maju…dan saya yakin, ada beberapa impian yang bisa kita raih dengan mengambil perhatian penuh kepada energi pikiran kita dan mewujudkannya…bagaikan magnet yang mampu menarik benda – benada yang kita inginkan, dan menolak yang tidak kita inginkan…saya percaya, karena beberapa hal telah terjadi pada diri saya.

Ada beberapa tulisan yang bisa saya kutip tentang hukum ketertarikan ini….

” Segala sesuatu yang anda pancarkan lewat pikiran, perasaan, citraan mental, dan tutur kata anda, akan didatangkan kembali ke dalam kehidupan anda.” ( Catherine Ponder _ Dynamic Law of Prosperity )

“Semua pikiran akan menjelma nyata sesuai dengan intensitasnya, setiap butir pikiran terkecil di dalam benak kita mampu menggerakkan hukum itu untuk mewujudkannya menjadi kenyataan.” ( Ernst Holmes_Basic Ideas of Science of Mind )

“Anda adalah sebuah magnet hidup, anda bisa mendatangkan orang-orang, berbagai situasi dan kondisi yang selaras dengan pikiran anda. Apapun pikiran anda biarkan hidup dalam kesadaran anda kelak akan tumbuh dan menjelma menjadi pengalaman yang nyata.” (  Brian Tracy ).

Maka saudara, saya tidak promosi, tapi demi gemilangnya kehidupan anda…bacalah buku ini…recomended!!!

Sehat dan Sukses Selalu

Oleh: I Putu Gede Andy Pandy | Maret 21, 2009

Balinese Freedom

Selamat merayakan hari raya Galungan”
Semoga kita senantiasa berada pada jalan yang benar.

(Rgveda III.16.5)
Ma no agne amataye
maviratayai riradhah
magotayai sahasaputra ma nide
apa vdesamsi-a krdhi

Kami akan mengikuti jalan yang benar,
Seperti jalannya matahari dan bulan
Kami akan menyertai yang pemurah, yang
penyayang dan yang maha mengetahui…………..

Oleh: I Putu Gede Andy Pandy | Maret 19, 2009

Desain Interior dan Perubahan Iklim

Perubahan iklim adalah masalah lingkungan. Walaupun keberadaannya masih diperdebatkan, tetapi dari data yang ada kecenderungan perubahan terutama suhu udara ada secara nyata. Dalam keadaan iklim normal perubahan iklim mungkin tidak menimbulkan akibat nyata, tetapi pada keadaan ekstrim seperti pada periode La-Nina dan El-Nino skala besar perubahan dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar. Jika tidak dipersiapkan upaya penekanan laju perubahan dan adaptasi dalam menghadapi keadaan ini, maka Environment Cost yang ditanggung akan sangat besar. Di lain pihak dengan ikut meratifikasi UU no 6 tahun 1994 Indonesia mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan dana Internasional untuk Perubahan iklim. Untuk itu diperlukan kesadaran dan upaya bersama dalam menhadapi dan mengantisipasi perubahan iklim.

Dalam upaya kita untuk mitigasi dan adaptasi dari sisi bidang perancangan interior dan arsitektur, fakta akibat pemanasan global mendorong lahirnya berbagai inovasi produk industri terus berkembang dalam dunia interior dan arsitektur. Konsep pembangunan arsitektur hijau menekankan peningkatan efisiensi dalam penggunaan air, energi, dan material bangunan, mulai dari desain, pembangunan, hingga pemeliharaan bangunan itu ke depan.

Desain rancang bangunan memerhatikan banyak bukaan untuk memaksimalkan sirkulasi udara dan cahaya alami. Sedikit mungkin menggunakan penerangan lampu dan pengondisi udara pada siang hari.

Desain bangunan hemat energi, membatasi lahan terbangun, layout sederhana, ruang mengalir, kualitas bangunan bermutu, efisiensi bahan, dan material ramah lingkungan. Atap-atap bangunan dikembangkan menjadi taman atap (roof garden, green roof) yang memiliki nilai ekologis tinggi (suhu udara turun, pencemaran berkurang, ruang hijau bertambah).

Penggunaan material bahan bangunan yang tepat berperan besar dalam menghasilkan bangunan berkualitas yang ramah lingkungan. Beberapa jenis bahan bangunan ada yang memiliki tingkat kualitas yang memengaruhi harga. Penetapan anggaran biaya sebaiknya sesuai dengan anggaran biaya yang tersedia dan dilakukan sejak awal perencanaan sebelum konstruksi untuk mengatur pengeluaran sehingga bangunan tetap berkualitas.

Konstruksi yang berkelanjutan dilakukan dengan penggunaan bahan-bahan alternatif dan bahan bakar alternatif yang dapat mengurangi emisi CO2 sehingga lebih rendah daripada kadar normal bahan baku yang diproduksi sebelumnya.

Untuk mengantisipasi krisis air bersih, kita harus mengembangkan sistem pengurangan pemakaian air (reduce), penggunaan kembali air untuk berbagai keperluan sekaligus (reuse), mendaur ulang buangan air bersih (recycle), dan pengisian kembali air tanah (recharge).

Saran
Untuk ber-etika terhadap lingkungan, kita harus menghargai alam, misalnya dengan tidak menebang pohon disekitar rumah kita. Etika terhadap lingkungan terutama sudah dituliskan melalui peraturan pemerintah daerah agar kita patuhi, seperti garis sempadan, ketinggian bangunan, dan sebagainya.

Dari segi desain, kita harus berupaya mengembalikan potensi alam yang seharusnya sangat baik, tapi karena kehadiran manusia jadi semakin hancur. Contohnya; jangan menggunakan seluruh area lahan rumah untuk bangunan, namun sisakan untuk taman-taman asri yang bisa membantu memproduksi oksigen. Selain itu tetap gunakan sumur peresapan air agar air bisa meresap ke tanah kembali.

Saat ini perlu lebih banyak cara agar material yang ramah lingkungan bisa didapatkan dengan mudah, misalnya pemerintah dan industri lebih berpihak pada produksi material lokal yang dibuat dengan teknologi sederhana dari masyarakat, agar lebih memberdayakan masyarakat lokal secara ekonomi (ini juga termasuk kebijakan yang ‘green’).

Jadikan perancangan interior arsitektur yang ramah lingkungan sebagai tren karena kita semakin butuh, akibat makin kurangnya sumber daya alam dan menipisnya energi. Kita makin butuh interior arsitektur ramah lingkungan di tempat tinggal kita agar kita tetap sehat, tetap bisa merasakan hubungan dengan alam, dan makin menghargai alam.

Oleh: I Putu Gede Andy Pandy | Maret 19, 2009

Upaya Mitigasi dan adaptasi dari bidang desain interior dan arsitektur

Melalui mitigasi, kita berusaha mengurangi sebab pemanasan global dari sumbernya. Gunanya agar laju pemanasan itu melambat. Dan pada saat bersamaan, kita dapat menyiapkan diri untuk beradaptasi dengan perubahan yang ada. Sehingga diharapkan akan ditemukan suatu titik temu yang menjamin kelangsungan hidup manusia.

Dalam skala kecil, mitigasi bisa berupa gerakan cinta lingkungan seperti pengelolaan sampah, bike to work, mengurangi penggunaan plastik, menggunakan AC yang non CFC, hemat energi dan lain sebagainya. Sedangkan beradaptasi dapat dilakukan dengan melakukan penataan lansekap lingkungan, penghijauan, menjaga daerah resapan, re-use, recycling dan lain-lain.

Strategi mitigasi dan adaptasi dalam skala yang lebih luas bisa banyak sekali. Misalnya pencarian energi alternatif, desain rumah hemat energi, dan kendaraan listrik.

Energi alternative yang bisa dipilih , seperti :
Renewable Energy
Energi yang bisa didapat dari alam seperti : Energi Matahari , Energi Angin. Produk produk yang bisa digunakan seperti : Solar Panel , Heat Pumps , Wind Turbins.
Efficient Heating
Energi panas alami yang bisa dihasilkan dari bahan bahan alam atau produk produk yang bermutu seperti : Underfloor Heating , Efficient Boiler , Twin Coil Cilinders.
Water Conservation
Pemanfaatan air secara maksimal dan efisien. Produk produk bermutu seperti : Rainwater Harvester , Dual Flush WC’s , Ecoplay Water Recycling.

Dalam penerapan di rumah ramah lingkungan , banyak contoh produk dipasaran yang bisa digunakan seperti : Solar Panel untuk pemanas air , listrik lampu / alat elektronik dan lain – lain. Atap rumah dari kaca utk penerangan alami. Jendela dari kayu dgn dilapisi kasa , pada malam hari akan terasa sejuk udara dari luar dan nyamuk tidak bisa masuk. Tempat pembuangan sampah terpisah menjadi 2 , untuk sampah plastik dan sampah organic.Rumah tanpa cat , memanfaatkan warna alami batu bata. Lantai dari kayu , dari batu alam , batu kali.

Dapat juga dilakukan upaya mitigasi seperti berikut :
1. Tinggi bangunan, maksimal 4 lantai, lebih dari 4 lantai, bangunan akan makan banyak energi untuk AC, lift, dan lain – lain.
2. Manfaatkan cahaya matahari dengan optimal, kendalikan arah bukaan, jangan sampai sinar matahari masuk secara langsung kedalam bangunan. Desain rumah yang memanfaatkan cahaya matahari dan sirkulasi udara secara optimum akan membantu menghemat penggunaan energi.
3. Cross ventilation, untuk menghemat pemakaian ac
4. Bentengi bangunan dengan vegetasi yang mempengaruhi iklim mikro .
5. Luaskan permukaan bangunan, hal ini menjadikan ruang dalam bangunan tetap dingin.
7. Memakai material bangunan yang thermal capacity-nya besar.
8. Acuan green building melalui konsep Leadership in Energy and Environtmental Design (LEED).
Strategi desain yang dapat diterapkan antara lain, pemanfaatan material berkelanjutan, keterkaitan dengan ekologi lokal, keterkaitan antara transit dan tempat tinggal, rekreasi dan bekerja, serta efisiensi penggunaan air, penanganan limbah, dan mengedepankan kondisi lokal baik secara fisik maupun secara sosial.

Pendekatan ini antara lain menganjurkan pemilik rumah membuat taman yang tidak hanya indah secara visual, tapi juga memiliki kemampuan meningkatkan kualitas air dan tanah. Sewaktu mendesain rumah, hendaknya kita memikirkan aspek ekologis itu. Hal ini akan menjawab pertanyaan seputar ke mana air hujan mengalir dan daun-daun kering dibuang.

Merencanakan taman dari awal dengan pendekatan nilai ekologis menjadikan kita secara otomatis memperhatikan sistem dan pemeliharaan taman. Sistem pengaliran air resapan, misalnya, bisa dengan membuat sumur-sumur resapan dan biopori. Ini juga sekaligus untuk mengolah sampah organic.

Yang tak kalah penting yakni pengelolaan limbah rumah tangga. Asal tahu saja, limbah bangunan dan rumah tangga merupakan salah satu penyumbang terbesar pencemaran tanah dan air.

Penggunaan material lokal justru akan lebih menghemat biaya (biaya produksi, angkutan). Kreativitas desain sangat dibutuhkan untuk menghasilkan bangunan berbahan lokal menjadi lebih menarik, keunikan khas lokal, dan mudah diganti dan diperoleh dari tempat sekitar. Perpaduan material batu kali atau batu bata untuk fondasi dan dinding, dinding dari kayu atau gedeg modern (bambu), atap genteng, dan lantai teraso tidak kalah bagus dengan bangunan berdinding beton dan kaca, rangka dan atap baja, serta lantai keramik, marmer, atau granit. Motif dan ornamen lokal pada dekoratif bangunan juga memberikan nilai tambah tersendiri.

Pemanfaatan material bekas atau sisa untuk bahan renovasi bangunan juga dapat menghasilkan bangunan yang indah dan fungsional. Kusen, daun pintu atau jendela, kaca, teraso, hingga tangga dan pagar besi bekas masih bisa dirapikan, diberi sentuhan baru, dan dipakai ulang yang dapat memberikan suasana baru pada bangunan. Lebih murah dan tetap kuat.

Material ramah lingkungan memiliki kriteria sebagai berikut;
a. tidak beracun, sebelum maupun sesudah digunakan
b. dalam proses pembuatannya tidak memproduksi zat-zat berbahaya bagi lingkungan
c. dapat menghubungkan kita dengan alam, dalam arti kita makin dekat dengan alam karena kesan alami dari material tersebut (misalnya bata mengingatkan kita pada tanah, kayu pada pepohonan)
d. bisa didapatkan dengan mudah dan dekat (tidak memerlukan ongkos atau proses memindahkan yang besar, karena menghemat energi BBM untuk memindahkan material tersebut ke lokasi pembangunan)
e. bahan material yang dapat terurai dengan mudah secara alami

Material yang ramah lingkungan menurut kriteria diatas misalnya; batu bata, semen, batu alam, keramik lokal, kayu, dan sebagainya. Ramah lingkungan atau tidaknya material bisa diukur dari kriteria tersebut atau dari salah satu kriteria saja, seperti kayu yang makin sulit didapat, tapi bila dipakai dengan hemat dan benar bisa membuat kita merasa makin dekat dengan alam karena mengingatkan kita pada tumbuh-tumbuhan.

Semen, keramik, batu bata, aluminium, kaca, dan baja sebagai bahan baku utama dalam pembuatan sebuah bangunan berperan penting dalam mewujudkan konsep bangunan ramah lingkungan.

Untuk kerangka bangunan utama dan atap, kini material kayu sudah mulai digantikan material baja ringan. Isu penebangan liar (illegal logging) akibat pembabatan kayu hutan yang tak terkendali menempatkan bangunan berbahan kayu mulai berkurang sebagai wujud kepedulian dan keprihatinan terhadap penebangan kayu dan kelestarian bumi. Peran kayu pun perlahan mulai digantikan oleh baja ringan dan aluminium.

Baja ringan dapat dipilih berdasarkan beberapa tingkatan kualitas tergantung dari bahan bakunya. Rangka atap dan bangunan dari baja memiliki keunggulan lebih kuat, antikarat, antikeropos, antirayap, lentur, mudah dipasang, dan lebih ringan sehingga tidak membebani konstruksi dan fondasi, serta dapat dipasang dengan perhitungan desain arsitektur dan kalkulasi teknik sipil.

Kusen jendela dan pintu juga sudah mulai menggunakan bahan aluminium sebagai generasi bahan bangunan masa datang. Aluminium memiliki keunggulan dapat didaur ulang (digunakan ulang), bebas racun dan zat pemicu kanker, bebas perawatan dan praktis (sesuai gaya hidup modern), dengan desain insulasi khusus mengurangi transmisi panas dan bising (hemat energi, hemat biaya), lebih kuat, tahan lama, antikarat, tidak perlu diganti sama sekali hanya karet pengganjal saja, tersedia beragam warna, bentuk, dan ukuran dengan tekstur variasi (klasik, kayu).

Bahan dinding dipilih yang mampu menyerap panas matahari dengan baik. Batu bata alami atau fabrikasi batu bata ringan (campuran pasir, kapur, semen, dan bahan lain) memiliki karakteristik tahan api, kuat terhadap tekanan tinggi, daya serap air rendah, kedap suara, dan menyerap panas matahari secara signifikan.

Kehalusan permukaan dan warna bahan bangunan sangat menentukan iklim mikro di sekitar bangunan, warna cerah dan permukaan licin adalah pemantul sinar matahari yang baik dan menaikkan suhu sekitar. Warna gelap dan permukaan kasar akan membantu meredam dan menyerap sinar dan panas matahari. Bahan bangunan berpori mudah meluncurkan panas dan meluncurkannya kembali jika suhu udara disekitarnya menurun. Sangat bijaksana jika memanfaatkan bahan-bahan bangunan alami seperti aslinya untuk pelapis dinding dan lantai luar.

Di samping itu diperlukan teknik insulasi yang baik untuk meredam pancaran panas genteng ke ruang di bawahnya (kasur ijuk sangat baik sebagai isolasi atap di bawah genteng daripada nylon wool). Dalam ruang atap yang tertutup rapat, terjadi udara yang lebih panas dari sinar matahari atau suhu udara luar. Panas pada ruang atap akan dipancarkan ke bawah ke langit-langit dan dipancarkan lagi ke ruang fungsional di bawahnya.

Dalam hal sanitasi, septic tank dengan penyaring biologis (biological filter septic tank) berbahan fiberglass dirancang dengan teknologi khusus untuk tidak mencemari lingkungan, memiliki sistem penguraian secara bertahap, dilengkapi dengan sistem desinfektan, hemat lahan, antibocor atau tidak rembes, tahan korosi, pemasangan mudah dan cepat, serta tidak membutuhkan perawatan khusus.

Kotoran diproses penguraian secara biologis dan filterisasi secara bertahap melalui tiga kompartemen. Media kontak yang dirancang khusus dan sistem desinfektan sarana pencuci hama yang digunakan sesuai kebutuhan membuat buangan limbah kotoran tidak menyebabkan pencemaran pada air tanah dan lingkungan.

Ikllim mikro di sekitar bangunan perlu dikendalikan dengan memanfaatkan tanaman hijau yang berdaun gelap dan lebat. Sangat ideal jika 30% – 70% volume ruang lahan bangunan terisi tanaman hijau dan 30% – 70% luasan permukkaan tanah tidak ditutupi material keras.

Bagaimana rumah ramah lingkungan itu? pada dasarnya rumah ramah lingkungan menerapkan konsep rumah hemat energi. Banyak memanfaatkan pengudaraan alami dan pencahayaan alami. Desain rumah sedemikian rupa sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada AC dan lampu.

Pada dasarnya alam disekitar kita memiliki potensi untuk kita gunakan dalam desain rumah tinggal, seperti udara alami yang sejuk, dan matahari yang bersinar sepanjang hari sepanjang tahun. Dalam memanfaatkan cahaya matahari, yang diperlukan adalah “terang” nya sedangkan “panas” nya dihindari. Salah satu caranya adalah memanfaatkan arah timur/barat/ atau utara/selatan. Jendela harus berkanopi dengan sehingga terpaan langsung cahaya matahari dapat diminimalkan.

Faktor-faktor yang mendukung sebuah rumah menjadi rumah ramah lingkungan antara lain:
1. Rangka atap baja ringan
Penggunaan baja ringan ini sebagai jawaban atas semakin menipisnya jumlah kayu hutan kita. Baja ringan lebih efektif dalam aplikasi atap. Pengerjaannya lebih efisien dalam waktu, dan lebih presisi karena buatan pabrik.
2. kusen, daun jendela, pintu menggunakan alumunium/ PVC/ UPVC
3. Plafond menggunakan gypsum dan rangka besi holow
4. Atap tinggi, hal ini bermanfaat untuk sirkulasi udara yang berada di dalam rumah.
5. Tritisan lebar
6. Banyak bukaan
7. Plafond tinggi
8. Kanopi tiap jendela
9. Luas bangunan sebaiknya tidak lebih dari 60% luas lahan
Perbandingan antara luas bangunan dengan lahan hijau idealnya adalah 60-40. Yang mana fungsi taman tidak hanya sekedar mempercantik penampilan rumah, tetapi juga sebagai daerah resapan air hujan. Agar taman dapat dengan mudah menyerap air hujan, caranya tidak hanya dengan tanaman ,tetapi juga memberi pori-pori tanah dengan cara melubangi. Selain sebagai resapan, taman juga berfungsi sebagai penyaring kebisingan dan debu. Tentu rumah akan menjadi sehat jika minim debu.

Sebuah penelitian menyebutkan, bila tanaman di bagian atap mempunyai tinggi sekitar 10 cm, maka dapat mengurangi pemakaian AC sekitar 25 persen. Sebuah ruangan yang terletak tepat di bawah green roof mempunyai suhu udara lebih rendah, yaitu sekitar 3 derajat hingga 4 derajat Celsius dibandingkan dengan suhu udara di luar ruangan.

Green roof dan green wall juga berfungsi sebagai filter udara yang membuat udara lebih bersih. Sebagai informasi, setiap satu meter persegi rumput di bagian atap dapat menghilangkan sekitar 0,2 kg partikel udara yang kotor setiap tahunnya

Pemanfaatan energi alternatif
Untuk menghemat pemakaian listrik, kita dapat menggunakan lampu hemat energi, mempertahankan suhu AC di 25º C, membuka tirai jendela bila memungkinkan agar terang, dan matikan peralatan elektronik jika tidak diperlukan (bukan posisi stand-by).

Penghuni diajak memanfaatkan energi alternatif dalam memenuhi kebutuhan listrik yang murah dan praktis, serta ditunjang pengembangan teknologi energi tenaga surya, angin, atau biogas untuk bangunan rumah/ gedung.

Skala bangunan dan proporsi ruang terbuka harus memerhatikan koefisien dasar bangunan (KDB) dan koefisien dasar hijau (KDH) yang berkisar 40-70 persen ruang terbangun berbanding 30-60 persen untuk ruang hijau untuk bernapas dan menyerap air. Keseluruhan atau sebagian atap bangunan dikembalikan sebagai ruang hijau pengganti lahan yang dipakai massa bangunan di bagian bawahnya. Atap-atap bangunan dikembangkan menjadi taman atap (roof garden) dan dinding dijalari tanaman rambat (green wall) agar suhu udara di luar dan dalam turun, pencemaran berkurang, dan ruang hijau bertambah.

Bangunan harus mulai mengurangi pemakaian air (reduce), penggunaan kembali air untuk berbagai keperluan sekaligus (reuse), mendaur ulang buangan air bersih (recycle), dan mengisi kembali air tanah (recharge) dengan sumur resapan air (1 x 1 x 2 meter) dan/atau lubang resapan biopori (10 sentimeter x 1 meter).

Semua air limbah dimasukkan ke dalam sumur resapan air dengan pengolahan konvensional supaya tidak harus terlalu bergantung kepada sistem lingkungan yang ada. Cara hemat penggunaan air adalah tutup keran bila tidak diperlukan, jangan biarkan air keran menetes, hemat air saat cuci tangan dan cuci gelas/piring, pilih dual flush untuk toilet, selalu habiskan air yang Anda minum.

Dalam mengolah budaya sampah, bangunan menyediakan tempat pengolahan sampah mandiri sejak dari sumbernya. Penghuni diajak mengurangi (reduce) pemakaian barang sulit terurai. Sampah anorganik dipilah dan digunakan ulang atau dijual ke pemulung. Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos untuk menyuburkan tanaman kebun. Tidak ada sampah yang terbuang (zero waste).

Latar Belakang
ISU pemanasan global masih menghangat di segala bidang kehidupan. Berbagai upaya terus dilakukan untuk menghambat pemanasan bumi, perubahan iklim secara ekstrem, dan degradasi kualitas lingkungan.

Manusia sebagai subyek pengolah lingkungan adalah sebagai faktor utama penyumbang perubahan pada lingkungan hidup . Adanya pertumbuhan penduduk dan terjadinya urbanisasi menjadikan banyaknya tumbuh akomodasi rumah tinggal dan sarana lainnya dalam pembangunan lingkungan. Pembangunan perumahan semakin terlihat di beberapa tempat, tetapi mereka kurang memperhatikan lingkungannya. Membangun rumah yang ekologis dan ramah lingkungan tidak sesulit yang dibayangkan. Diperlukan pemikiran khusus yang menyeluruh dan seimbang antara bangunannya secara fisik, manusia penghuninya dan lingkungan sekitarnya.

Terkait dengan kehidupan manusia di dalam pemanfaatan ruang, manusia hidup dalam ruang, baik ruang dalam dan ruang luar. Kedua ruang saling mempengaruhi, hidup di dalam ruang yang nyaman karena ruang luar dan lingkungan yang nyaman. Lingkungan yang nyaman bila kita bisa memulai dengan pengaturan ruang dalam yang nyaman. Di satu sisi, perancangan ini belum memikirkan aspek berkelanjutan, dimana hanya memikirkan bagaimana kita bisa hidup nyaman hari ini tanpa memikirkan bagaimana kita hidup nyaman untuk seterusnya.

Semakin menurunnya kondisi lingkungan luar, memberikan pengaruh pada menurunnya kualitas hidup. Untuk itu dirasa perlu adanya upaya perbaikan untuk meminimalisasi efek-efek negatif baik pada manusia maupun pada lingkungan. Perancangan interior dan arsitektur yang baik dapat menjadi bagian dari upaya untuk turut serta dalam penyelamatan dan penyehatan lingkungan. Interior berorientasi ekologis dapat merupakan salah satu jawaban untuk dapat memberikan kontribusi baik bagi penghuni maupun lingkungan.

Mengenai konsep bangunan khususnya di Indonesia yang beriklim tropis, sebenarnya kita telah memiliki warisan dan kearifan lokal dari segi arsitektur tradisionalnya, tetapi model pembangunan rumah dan fasilitas bangunan lainnya cenderung mengabaikan kondisi iklim kita dan terlalu mengikuti trend bergaya tertentu. Sehingga bangunan harus “terpaksa” berdiri di tengah kondisi iklim kita. Hal ini menyebabkan ketidak nyamanan penghuni yang beraktifitas dalam ruang.

Kondisi iklim tropis sebenarnya sangat menunjang kehidupan kita yang beraktifitas di dalam ruang. Dengan pemanfaatan kondisi iklim seperti arah dan intensitas sinar matahari, kelembaban udara, suhu, arah dan kecepatan angin, dan curah hujan, sebenarnya dapat dirancang bentuk bangunan yang sedemikian rupa, dan penerapan bahan – bahan alami, sehingga terwujudlah rumah yang ramah lingkungan. Penerapan ini tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh penghuni rumah tetapi juga oleh orang lain dan lingkungannya. Dan tidak hanya diperhitungkan untuk kepentingan sesaat, tetapi untuk kepentingan masa depan, dan juga dilihat dari sisi pemanfaatan energi untuk kepentingan sustainable atau berkelanjutan.

Melihat kondisi tersebut, diperlukan adanya mitigasi dan dan/atau upaya adaptasi terhadap perubahan iklim di Bali khususnya, upaya mengurangi efek rumah kaca sehingga dapat memperlambat laju pemanasan global. Diperlukan pemikiran khusus dari sisi perancangan interior dan arsitektur bangunan ke depannya. Adanya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung mendorong pembangunan bangunan berarsitektur lokal terasa lebih ramah lingkungan dan selaras dengan lingkungan asal. Desain bangunan (green building) hemat energi, membatasi lahan terbangun, layout sederhana, ruang mengalir, kualitas bangunan bermutu, efisiensi bahan, dan material ramah lingkungan (green product).

Bangunan dirancang dengan massa ruang, keterbukaan ruang, dan hubungan ruang luar-dalam yang cair, teras lebar, ventilasi bersilangan, dan void berimbang yang secara klimatik tropis berfungsi untuk sirkulasi pengudaraan dan pencahayaan alami merata ke seluruh ruangan agar hemat energi.

Konsep green building atau bangunan ramah lingkungan didorong menjadi tren dunia bagi pengembangan properti saat ini. Bangunan ramah lingkungan ini punya kontribusi menahan laju pemanasan global dengan membenahi iklim mikro.

Dengan pemikiran seperti diatas, merupakan langkah awal upaya mitigasi dari sisi perancangan, dan berupaya terus beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang terus berubah ekstrim tersebut.

Upaya Adaptasi dan Mitigasi terhadap Dampak Perubahan Iklim
Mitigasi dalam kamus john m. echols dan hassan shadily atinya pengurangan. Sedangkan adaptation atau adaptasi artinya penyesuaian diri. Kedua istilah ini menjadi penting, karena itu strategi kita menghadapi perubahan alam. Kita memang beruntung masih bisa bertahan hidup hingga sekarang. Namun para scientist terkemukapun tidak mampu memprediksi apa yang akan dilakukan oleh alam untuk mencapai keseimbangan. Dengan laju kenaikan suhu yang seperti sekarang ini, ditakutkan dapat terjadi lonjakan yang lebih cepat lagi di masa depan.

Adaptasi terhadap dampak perubahan iklim adalah salah satu cara penyesuaian yang dilakukan secara spontan atau terencana untuk memberikan reaksi terhadap perubahan iklim yang diprediksi atau yang sudah terjadi. Mitigasi adalah kegiatan jangka panjang yang dilakukan untuk menghadapi dampak dengan tujuan untuk mengurangi resiko atau kemungkinan terjadi suatu bencana. Kegiatan lebih lanjut dari mitigasi dampak adalah kesiapan dalam menghadapi bencana, tanggapan ketika bencana dan pemulihan setelah bencana terjadi (Murdiyarso, 2001). Berbagai sektor akan terpengaruh oleh adanya perubahan iklim. Garis besar dampak dan upaya adaptasi yang dapat dilakukan disarikan oleh IPCC (IPCC, 2001)

Indonesia tidak termasuk dalam negara katagori Annex I (negara-negara maju ) menurut penggolongan IPCC. Menurut UU no 6 tahun 1994, yaitu UU pengesahan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang perubahan iklim, Indonesia tidak wajib ikut menekan emisi GRK, tetapi hanya bersifat sukarela. Menurut UU lingkungan hidup no 23 tahun 1997, menjaga kelestarian lingkungan hidup adalah suatu yang harus dilakukan agar pembangunan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Jadi upaya mengurangi laju emisi GRK menjadi keharusan dalam rangka melestarikan lingkungan.

Dalam UU no 6 tahun 1994 jika negara bukan anggota Annex I ikut dalam upaya menekan emisi GRK ataupun melakukan upaya-upaya adaptasi terhadap dampak perubahan iklim, maka dalam melakukan upaya tersebut berhak menggunakan dana Climate Change Fund yang disediakan oleh UNFCC. Agar dapat memanfaatkan dana ini Indonesia harus melakukan beberapa tahapan antara lain ( Murdiyarso, 2001 ; Boer, 2001):
1. Penyusunan data base dan sistim informasi
2. Kajian ilmiah dan kemampuan prediksi serta analisis dampak perubahan iklim
3. Menyusun Building Capacity dalam rangka adaptasi terhadap dampak perubahan iklim
4. Menyiapkan kelembagaan di tingkat pusat dan daerah
5. Menyiapkan perangkat hukum dan perundangan
6. Meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat.

( Tulisan ini Merupakan latar belakang pemikiran dalam upaya kita sebagai desainer untuk adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim – tugas M.K. Metodologi Penelitian S2 Lingkungan-UNUD )

Oleh: I Putu Gede Andy Pandy | Maret 19, 2009

TINJAUAN TENTANG TAMAN TELAJAKAN

Taman telajakan yang dibahas adalah taman telajakan yang terdapat pada sisi kiri kanan jalan, karena mengingat dari beberapa jenis telajakan yaitu telajakan pura, telajakan merajan, telajakan kantor, telajakan sekolah, telajakan jalan (media jalan) telajakan telabah (saluran air), telajakan desa, telajakan subak, telajakan puri, dan sebagainya.
Adapun konsepsi yang bisa diterapkan dalam penataan taman telajakan ini, tidak terlepas dari konsepsi nilai-nilai budaya Bali yaitu :
1. Mendukung fungsi tempat taman telajakan itu berada.
2. Memanfaatkan unsur-unsur alam dalam perwujudannya.
3. Mengungkapkan keselarasan terhadap alam dan lingkungannya.
4. Didasarkan atas tata nilai utama, madya, nista.
5. Memiliki keselarasan terhadap status sosial dan kemampuan ekonomi penghuni.
Pentingnya penataan taman telajakan ini karena bertujuan mendukung fungsi jalan sebagai sarana komunikasi, transportasi dan fungsi tempat dimana terdapat telajakan itu. Disamping itu, penataan taman telajakan yang disesuaikan dengan unsur perancangan juga dapat :
1. Memperlancar dan mengamankan arus sirkulasi
2. Menciptakan ketenangan, kenikmatan atau kenyamanan dan kesehatan penghuninya.
3. Meningkatkan keindahan lingkungan.
4. Menyediakan kebutuhan hidup.
5. Memperlebar jarak pandang, mengurangi kebisingan, polusi, mengurangi panas, menyegarkan udara.

Adapun ukuran lebar dari telajakan ini, minimal selebar sangkar ayam ditambah satu telapak kaki (+ 100 cm)dan maximal 1 depa agung atau asanan padi (+ 220 cm). Dan tanaman yang dipakai bisa difungsikan untuk pelindung, penghias dan tanaman penutup seperti, kelapa, kenanga, kamboja, kembang sepatu, cempaka, jempiring, kembang kuning, dan tanaman lainnya yang berciri Bali. sedangkan tembok pagar diletakan diantara pekarangan dan telajakan, bentuknya kepala, badan, kaki, terbuat dari bahan alam setempat seperti bata, batu kali dan padas. Dengan tinggi sebatas mata manusia dengan prinsip dari luar tidak bisa melihat ke dalam dan sebaliknya dengan tinggi minimal + 160 cm, memakai warna alami dan tidak kontras dengan lingkungan.

Sesuai dengan konsep tradisional Bali, yang berdasarkan kebenaran, disebabkan bahwa manusia harus selaras dengan alam, dimana terdapat lima unsur yang disebut “Panca Mahabhuta” yang harus ada dalam taman yang berkonsep tradisional Bali yaitu :
1. Pertiwi (zat padat)
Batu-batuan, tanaman atau benda padat lainnya.
2. Apah (zat cair)
Kolam dengan air mancurnya.
3. Teja (sinar)
Suasana yang ditimbulkan oleh permainan warna gelap, terang dan bayang-bayang.
4. Bayu (udara)
Tiupan angin yang sepoi-sepoi basah dan kesejukan.
5. Akasa (Ether)
Latar belakang angkasa luar dengan cakrawala sebagai batas pandangan.

Dengan melihat pada konsepsi yang berakar pada agama Hindu, maka karakter pertamanan di Bali adalah sebagai berikut :
1. Pertamanan di Bali hendaknya dapat membahasakan Agama Hindu yang berisikan nilai kebenaran Tuhan, sehingga hakekat alam dalam ciptaan tuhan akan dapat terpancar dalam satu susunan Pertamanan.
2. Memberi inspirasi hakekat hidup dan kehidupan.
3. Penataan diatur dengan etika dan tata susila yang mempunyai karakter melindungi, mengayomi, mendampingi manusia secara harmonis dalam kegairahan hidup.
4. Karakter taman yang dapat menyelaraskan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan hubungan dengan Tuhan.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori